Tidak Adanya Kekerasan Dalam Laga Benfica Vs Sporting
Tidak itu saja, ketidaksamaan kelas di antara Benfica dan Sporting juga kelihatan saat laga berjalan. Bermain di bawah siraman hujan membuat permukaan Agen Slot Terpercaya lapangan jadi becek dan seragam ke-2 kesebelasan kotor disanggupi lumpur. Saat interval ke arah set ke-2 , beberapa pemain Sporting menukar seragam mereka yang kotor. Dalam pada itu Benfica masih tetap meneruskan laga yang berakhir dengan score 2-1 untuk kemenangan Sporting itu dengan seragam yang disanggupi lumpur.
Penghinaan Sporting ke Benfica lebih kronis terjadi pada 18 Juli 1911. Waktu itu Benfica direncanakan berkunjung ke basis Sporting. Tetapi beberapa pemain Sporting menampik kehadiran Benfica. Mereka menyebutkan beberapa punggawa Benfica tidak pantas tampil di stadion mereka.
Walau pada awal kelahirannya Benfica semakin banyak menanggung derita dibanding Sporting, namun masalah prestasi club berjulukan Águias itu lebih unggul daripada pesaing sekotanya. Dari medio 1930-an sampai sekarang ini, Benfica sudah memenangkan titel juara persaingan khusus Portugal sekitar 36 kali, sementara Sporting baru 18 kali. Selanjutnya di ajang Eropa, Benfica memenangkan gelar Europa Champions Cup (Liga Champions) sekitar 2x. Prestasi terbaik Sporting di Eropa ialah satu gelar di gelaran European Cup Winner's Cup.
Persaingan di antara Benfica dan Sporting sudah berjalan Togel Hari Ini sepanjang beberapa ratus tahun lama waktunya. Recikan kedengkian secara temurun menempel pada semua komponen team, tidak kecuali supporter. Walau demikian simpatisan dari ke-2 kesebelasan jarang-jarang turut serta benturan di luar lapangan.
Saat sebelum laga diawali, supporter Sporting dan Benfica semakin tertarik jalani ritus pra laga masing-masing dengan makan sandwich babi dan menyesap bir botol kecil, dibanding menyulut emosi keduanya saat sebelum laga derbi berjalan. Keadaan itu minimal sudah jadi adat pra laga yang dijaga sepanjang beberapa ratus tahun lama waktunya.
Tetapi, tidak berarti persaingan di antara Benfica dan Sporting bersih dari yang bernama bencana. Pada 1974, di laga final Piala Portugal, salah seorang pelaku Ultras Benfica rayakan gol yang diciptakan team kebanggaannya dengan terlalu berlebih. Dia menghidupkan petasan roket yang pas berkenaan dada salah seorang fans Sporting, Rui Mendes. Saat itu juga Rui wafat, dan beberapa simpatisan Sporting menumpahkan amarahnya dengan mengatakan pekikan " pembunuh, pembunuh, pembunuh" ke satu kelompok Ultras Benfica. Walau terjadi sebuah kejadian yang menyebabkan meninggalnya seorang supporter Sporting, laga masih tetap diteruskan dan usai dengan score 3-1 untuk kemenangan Benfica.
Sehabis pertandingan ke-2 barisan supporter lakukan tindakan berdukacita. Mereka bersatu seakan tidak mengenali pembatas namanya perseteruan. Selang sekian hari sesudah peristiwa, kepolisian Portugal tangkap Hugo Inacio, aktor pelempar petasan roket yang tewaskan Luis. Hugo diganjar hukuman 4 tahun penjara.
Salah satunya wartawan terpenting Portugal, Antonio Lobo Antunes, menerangkan jika dalam sejarahnya, barisan supporter Sporting dan Benfica selalu usaha keras untuk jaga perdamaian, walau tidak dipungkuri rasa tidak suka menyelimutinya ke-2 barisan itu. Khususnya beberapa simpatisan Benfica yang disebutkan Antunes lebih vocal dalam mengumandangkan perdamaian dibanding mengakibatkan kekerasan:

Komentar
Posting Komentar